Selasa, 07 Oktober 2008

ZIYA GOKALP : KONSEP PEMIKIRAN DAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Turki pernah menjadi pusat kekuasaan DUNIA Islam yang tak terkalahkan hamper selama delapan abad dan sanagt disegani di Eropa.[1] Kerajaan Turki Ustmani (The Ottoman Empire) merupakan kerajaan yang terbilang sukses memelihara kemerdekaanya hingga abad XIX dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Kerajaan Ottonom menemukan dasar-dasar identifikasi nasionalitasnya yang dikemudian hari dikeristalkan dengan Westerensasi yang dilakukan Turki adalah sekuralisasi, suatu ungkapan yang ketika itu membuat kaum Muslimin terkejut. Keterkejutan Muslimin lebih akrab mengenai Turki sebagai kerajaan Islam dengan system pemerintahan Khalifah.
Kekhalifahan menggambarkan segala sesuatu harus didasarkan pada sumber pokok ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadis. Sistem pemerintahan pada model ini seolah-olah merupakan aplikasi dari Sya’riah secara totalitas bagi Negara Islam yang diharapkan. Sementara Sekuralismememberi image penghapusan Agama, atau yang lebih toleran pemisah Agamadari Negara. Agama hanya menjadi urusan masing-masing individu.
Pembaharuan di Turki[2] menimbulkan pergolakan pemikiran yang secara garis besar terdiri dari tiga corak pemikiran, yaitu Barat Islam Nasionalisme. Masing-masing corak

pemikiran tersebut mempunyai tokoh, dasar dan tujuan serta alasan mengapa harus diadakannya pembaharuan.[3]
Golongan barat menghendaki agar peradaban barat dijadikan sebagai dasar pembaharuan. Mereka merencanakan pembaharuan untuk membebaskan bangsa Turki dari segala bentuk kebodohan dan kejemuan berfikir. Pemimpin terkemuka dari golongan ini adalah tewfik Fikret (1867-1951) seorang pemikir sekaligus sastrawan yang banyak mengeritik dan menentang kaum tradisional. Dan Dr. Abdullah jewdat (1869-1932) seorang intelektual yang dianggap pendiri persatuan dan kemajuan. Mereka ini merupakan orang yang cukup gigih dalam mendorong perjalanan moderenesasi Turki dengan gagasan Barat.[4]
Golongan Islam sebagai lawan terkeras dari golongan barat. Terdiri dari atas beberapa kelompok dan yang terkuat adalah kelompok Sirat-Mustaskim. Ini adalah nama majalah yang kemudian berganti menjadi Sebel-ur Resed. Salah satu pemukanya bernama Mehmed Akif (1870-1936). Menurut golongan ini, bangsa Turki harus bias mengambil ilmu pengetahuan dan Teknologi Barat, akan tetapi harus pula bias menolak adat istiadat


mereka. Agama bukanlah merupakan penghambat kemajuan, seoerti yang dikatakan golongan Barat ingin meniru Barat (Westerenesasi) dengan tanpa reserve.[5]
Di tengah-tengah situasi ini muncul seorang Tokoh pembeharu Turki dengan golongan Nasionalis. Mehmed Ziya Gokalp (1875-1924). Dialah yang mempelopori aliran nasionalisme Turki dengan serangkaian pemikiran yang segar dan actual pada waktu itu. Gerakan ini merupakan pengganti dan Puan Turanismeatau Pan turkisme, yang dicetuskan oleh orang-orang Turki yang berasal dari daerah Rusia.[6]
Ziya Gokalp merupakan salah seorang pemikir terkemuka Turki abad modern, dan juga salah seorang Ideologi Negara Republik Turki yang diproklamirkan oleh Mustama Kemal Attatruk merupakan orang yang mengalaborasi lebih jauh terhadap pemikiran Ziya Gokalp. Karena itulah menurut hemat penulis pemikiran Gokalp sangat penting dibicarakan terutama bagaiman posisi Gokalp dalam pembaharuan Di Turki dan bagaimana pula pemikirannya dalam bidang politi, sosial dan agama dan apa yang melatar belakangi sehingga muncul ide tersebut.
B. BIOGRAFI ZIYA GOKALP
Ziaya Gokalp lahir dengan nama Mehmed ziya.[7] Pada tahun 1875 di Diyarkabir, sebuah koat pusat kebudayaan dan administrasi Di Anatolia Tenggara, wilayah pinggiran Iran dan Arab.


Ayah Ziya gokalp bernama Telek Efendi, seorang pegawai kerajaan Ottonom. Kehidupan pribadi dan visi pemikiran awalnya banyak dipengaruhi ayahnya dan pamannya dari ayahnya ia mewarisi pandangan progresif seperti jiwa patriotic dan tantannan hokum
konstitusi, ayahnya meneghendaki Ziya gokalp agar dapat mengecap pendidikan barat disamping juga mempelajri ajaran-ajaran Islam. Sedangkan dari pamanya ia memperoleh ilmu agama, sufisme, dan filsafat.[8] Setelah ayahnya meninggal dunia, Ziya Gokalp diasuh oleh pamanya Hasip Efendi seorang sarjan muslim yang membantunya dalam belajar Bahasa Perancis, Arab dan Persia sekaligus memperkenalkan karya-karya Sufi, sejak masih kecil Ziya Gokalp memang sudah gemar membaca karya-karya besar seperti Imam Ghazali, Ibnu Sina, ibnu Rusyid dan lain-lain.
Semenjak masa sekolah Ziya gokal ptelah aktif dalam gerakan polotik. Sewaktu mengikuti pelakaran di sekolah kedoktoran hewan istambul, salah seorang gurunya Yorge, menekankan perlunya mempelajari Phsikologi dan filsafat rakyat Turki. Anjuran ini menjadikan Ziya Gokalp menaruh perhatian pada Sisiologi.[9] Tahun 1896 di Is Tambul ia memesuki komite persatuan dan kemajuan. Kekota asalnya di Diyarbakirdan menikah dengan sepupunya Cevreye tahun 1898, mereka dikaruniai tiga orang putrid, tahun 1909 selain mengikuti revolusi turki muda, Ziya gokalpjuga mendirikan cabang local bagi oraganisasi CUP, di thessalonika, tahun 1909 dikota Salonika, dia terpilih menjadi anggota komite pusat, tahun 1918 tepatnya bulan nopember partai ini dibubarkan. Akhirnya ia bertemu dengan seorang doctor muda yang bersal dari Etnis Kurdi. Doktor inilah yang menumbuhkan minatny untuk memperhatikan problem-problem politis dan social, bahkan doctor ini yang juga mendorong mempelajari sosiologi lebih mendalam lagi.[10]
Dengan kemampuan berbahas Prancis, Gokalp selanjutnya lebih memperdalam pengetahuanya tentang sosiologi, terutama sosiologinya Emil Durkhiem, yang kemudian
dipergunakannya sebagai alat analisis sebagai kmunduran Islam dan sekaligus mencoba memberikan alternative peneyelesaian karir cemerlang Ziya Gokalp sebagai pemikir nasionalis bermula dan pertama kali dia menggunakan samaran Gokalp (1911), dan menerbitkan jurnal ke Istambul, dan terus menulis jurnal. Diantara jurnal yang diterbitkan Tur Yurdu (1912-1914), Halka Dorgu (1913-1914), Islam Mecmua (1917-1918). Karya Ziya Gokalp hamper semuanya terbentuk jurnal dan puisi. Sebagai buah karyanya yang berbentuk hanya The Bases Of Tiurkism (dasar-dasar Turkisme 1923) dan buku yang berjudul Turki Madeniyati Ta’rikhi (sejarah peradaban Turki) yang iatulis menjelang wafatnya samapi tidak terselesaikan.
Pada tahun 1915 ia dikukuhkan sebgai professor pertama dibidang Sosiologi di universitas Constatinopel, tempat ia mengajar.[11] Setelah perang dunia pertama, sebagai anggota komite pusat CPU, dia dianggap oleh inggris dan diasingkan ke Malta pada tahun (1919). Setelah bebas dari persaingan, ia kembali ke Diyarbakir dan menerbitkan jurna Kucuk Mecmua (1922-1923). Selain itu ia juga segera pindah ke Istambul karena kesehatannya menurun, sambil memberikan dorongan bagi kemajuan Nasional Turki, Ziya Gokalp meninggal dunia karena sakit pad tanggal 25 oktober 1924 di Istambul, kuang lebih empat decade setelah kematiannya, Ziya Gokalp tetap merupakan pemikir Turki yang paling berpengaruh.
Menganalisa dari riwayat Ziya Gokalp dia sebagai pemikir, penyair, dan politisi, dia juga dalah salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam sejarah polotik dan intelektual Turki abad ke 20. dari paparan diatas tadi dapatlak kita melihat posi Ziya Gokalp dalam pembeharuan di Turki beliu adalah teoritikus terkemuka yang mendudukan nasionalisme Turki sebagai landasan bagi sintesis anatara westerinesasi sekuler dan gerakan pembaharuan Turki berdasarkan pola barat dengan tetap mempertahankan agama Islam sebagai standar pembawa Islam selama berabad-abad tidak ditolelir oleh orang-orang nasionalis. Menurut kata kata Halide Edib Adivar dalam perkembangan sejarah yang menguntungkan Turki,[12] sebagai Muslim.
Kesadaran Nasionalisme Turki dikerajaan Usmani mulai timbul dipertengahan kedua abad ke 19. kerajaan Usmani yang daerah kekuasaannya mencakup daerah erofa timur di sebelah barat memiliki rakyat yang terdiri dari berbagai bangsa yang menganut berbagai agama.[13]
Ziya Gokalp dapat dipandang sebagai pejuang pertama di dunia Islam karena konsep Nasionalisme Baratnya.[14]
Ziya Gokalp menolak ketinggian UMMAH sebagai persudaraan Universal islam, karena bertentangan dengan konsep Nasionalisme Barat.[15]
Dalam menerima peradaban barat modern, Ziya gokalp memberikan alasan sebagai berikut :
Peradaban barat adalah kelanjutan dari perdaban Midetarian kuno, para pendiri peradaban Meditarian adalah orang-orang Turki juga, seperti bangsa Sumerian, Sythian, Phoenician dan hyksos. Zaman turanian dalam sejarah sebelum sejarah konu bagi para penduduk terdahulu asia barat juga adalah bagian peradaban barat dan memiliki bagian yang sama didalamnya.[16]
Ziya Gokalp mengikari keluhuran isLam dalam menempatkan derajat peradabannya yang independen.[17]
Dalam menerima peradaban barat, Ziya Gokalp berbeda dengan orang seangkatnnya, yaitu tidak membedakan antara yang baik dan yang buruk tetapi terus meniru dan mengambil segala aspeknya.[18]
Tujuan Turkisme dalam bidang hukum adalah menegakkan hukum modern di Turki. Masalah yang paling pokok untuk keberhasilan kita dalam menggabungkan tingkat bangsa modern adalah dengan melakukan pembersihan pada semua cabang tatanan dari jejak teokrasi dan klerekalisme(penganut partai agama). Yang dinamakan Negara modern haruslah bebas dari dua karakter yang berlaku pada abad pertengahan terebut. Dalam pemerintahan modern, pertama yang harus dilakukan adalah menempatkan badan legeslatif yang benar dan secara langsung rakyatlah yang mempunyai hak untuk mengaturnya. Tidak ada badan, tidak ada tradisi serta hak-hak lain yang dapat mengekang serta membatasi tatana seperti ini. Langkah kedua semua warga modern, dengan tidak memperdulikan agama yang mereka anut, harus dipandang satu sama lainnya dalam setiap masalah. Pendeknya semua syarat yang ada dalam hukum kita yang bertentangan dengan kebebasan, persamaan dan keadilan, serta semua bekas teokrasi dan klerekalisme harus dihilangkan seluruhnya.[19]
Dalam perkembangan gerakan pembaharuan di Turki, terdapat tiga aliran gerakan yang bertujuan ingin memajukan bangsa Turki dengna metode dan pendekatan yang berbeda. Aliran tersebut adalah :
Dalam usahanya untuk membuktikan bahwa pertentangan antara Islam dan peradaban barat menuju Ziya Gokalp dalam mencapai peradaban yang modern.[20]
Ziya gokalp menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang penyair yang besar. Inilah seperangkat puisinya yang diberi judul “ Religion and Science” yang memuat konsep idealnya mengenai kewanitaan.
Orang perempuan – ibuku, saudara perempuan atau anak putriku. Itulah dia yang membangkitkan perasaan yang paling suci dari kedalam hidupku.
Kekasihku – matahariku, bulanku dan bintangku !
Itulah dia yang membuatku mengerti kehidupan puisi !
Bagaiman bias hokum suci Tuhan memandang ciptaan-ciptaan yang ibdah itu hina?
Jelaslah ada kesalahan dalam mengartikan Qur’an oleh kaum terpelajar.
Dasar suatu bangsa serta pemerintahan adalah keluarga.
Sepanjang keseluruhan makna wanita itu bias direalisasi, maka kehidupan nasional tetap tidak akan sempurna.
Didikan keluarga harus sesuai dengan keadilan;
Karena itu persamaan adalah perlu dalam tiga hal-perceraian, pemisahan dan warisan.
Selama kaun perempuan dihitung setengah dari kaum laki-laki seperti dalam warisan dan perkawinan maka tak ada keluarga serta Negara yang akan menjadi makmur. Untuk hak-hak yang lain kita telah membuka undang-undang keadilan nasional.
Keluarga yang kita serahkan ditangan para ahli hukum agama dan teologi.
Saya tidak tahu kenapa kita menyerahkan kaum wanita dalm kesukaran.
Apakah dia tidak bekerja untuk bangsa ?
Cataula dia akan memutar jarumnya kedalamsebuah Bayonet tajam untuk mengoyak hak-haknya dari tangan kiat melalui revolusi?[21]
Dr. Muhammad Iqbal dalam bukunya Reconstruction of Relegious Thought In Islam mengatakan………Ijthadnya Ziya gokalp secara terbuka menguburkan kenyataan kenyataan. Denga memandang tuntunan syair Turki, saya khawatir dia tidak nampak menengtahui banyak tentang hokum kekeluargaan Islam.
Proyek kesayangan Ziya Gokalp adalah reformasi Islam kedalam suatu moderinisasi dan Agama yang barupa ilmu pengetahuan. Melalui suatu moderanisasi dan agama yang barupa ilmu pengetahuan ia bermaksud menjadikan mesjid sebanyak mungkin meneyerupai gereja Kristen. Empat tahun setelah kematiannya, impian itu menjadi nyata takkala sebuah Fakultas-Ketuhanan baru paad universitas Istambul menunjuk sebuah Komite untuk membuat rekomendasi melalui Universitas kepada Kementrian Pendidikan. Laporan disiarkan pada bulan Juni 1928, yang isinya antara lain menasehatkan, memperkenankan bangku (Gereja) serta jam kamar kedalam Mesjid, Orang Shalat dengan memakai sepatunya, menggunakan Bahasa Turki dalam shalat, dan untuk membuat shalat di Mesjid itu indah, mudah mendapat inspirasi, serta memiliki nilai spiritual, maka Mesjid perlu melatih para musikus dan alat-alat musik. “Kebutuhan ini adalah penting bagi kaum modern dengan meletakkan Alat musik Barat yang Suci kedalam Mesjid”.
Karena orang Turki sama taatnya dengan saudara-saudara muslim lainnya, Mereka menolak untuk menelan Islam yang bermacam-macam ini seperti yang ada ditangannyaZiya Gokalp, dimana seluruh proyek ini dibiarkan begitu saja sebagai kesalahan yang sangat hina.[22]
Dalam perkembangan gerakan pembaharuan di Turki, terdapat tiga aliran gerakan yang bertujuan ingin memajukan Bangsa Turki dengan metode dengan pendekatan yang berbeda. Aliarn Tersebut adalah :
a. Golongan Barat
Golongan ini memiliki beberapa ide dalam pembaharuan di Turki, diantara sebab kelemahannya terletak pada orang Turki sendiri. Mereka buta, mundur dan terhijab oleh keadaan Sya’riat yang menguasai segala kehidupan bangsa turki. Sebagai terapinya adalah bangsa Turki harus meniru dan memahami peradaban barat.[23]
b. Golongan Islam
Golongan ini merupakan golongan yang amat keras menentang ide pembaharuan yang dikemukakan oleh golongan barat. Golongan ini terdiri dari beberapa kelompok dan ynag paling kuat adalah kelompok Sirat-I Mustakim.[24] Golongan ini berpendapat bahwa, penyebab kemunduran Turki bukanlah Agama, sebab agama bukanlah menjadi penghalang bagi kemajuan, justru yang mengakibatkan mundurnya Turki adalah karena Sya’riatnya tidak dijalankan lagi dikerajaan Usmani dan orang Turki suka meniru Barat. Menurut golongan ini terapi yang terbaik adalah membuat sya’riat berlaku untuk segala aspek kehidupan rakyat Turki.
Lebih lanjut Harun Nasution mengungkapkan, menurut pandangan golongan ini Negara harus diatur olah para ulama, sebab Negara tidak bias dipisahkan dengan agama. Namun kenyataannya, hal ini tidak bias diwujudkan, sebab Turki terdapat dua penguasa yaitu Khalifah dan Sultan.
c. Golongan Nasionalis
golongan ini lahir atas reaksi terhadap Pan Turanisme (Pan Turkisme) yang tidak praktis dalam praktisnya. Ide Pan Turisme merupakan reaksi terhadap ide Islamisme yang tidak bias diwujudkan. Ide menegaskan bahwa semua orang Turki diwilayah manapun merupakan satu bangsa.
Semangat kebangsaan merupakan salah satu tenaga yang penggerak yang hebat dalam zaman modern ini. Di Eropa di mana awal mula telah mencapai kedewasaan secara radikal wajah segala bentuk dan benda selama abad ke-XIX, sehinngga abad itu umumnya dikenal abad kebangsaan.[25] Dalam kenyataan Nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa (a state of mine) , yakni suatu kepercayaan yang diatur oleh sejumlah besar manusia, sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan dengan rasa kebersamaan dalam suatu golongan (a sense of belonging together) sebagai sautu bangsa.
Dalam situasi seperti ini, Ziya Gokalp tampil dengan pengalaman akademisnya yang cukup banyak sebagai seseorang sosiolog terkemuka dan dipandang sebagai pendiri nasionalisme Turki. Dia melihat kelemahan rakyat Turki disebabkan adanya keengganan umat Islam untuk mengakui adanya perubahan dalam kondisi kehidupan mereka. Disamping itu tidak melihat perlunya interprestasi baru terhadap nilai-nilai ajaran Islam terhadap situasi yang berkembang. Golongan nasionalis Turki, menghendaki ajaran Islam perlu diterjemahkan kembali sesuai dengan perubahan zaman, sebab jika tidak nilai-nilai lama yang telah mentradisi dalam kehidupan akan menjadi belenggu untuk mencapai kemajuan.
Sebab yang lain dari kemunduran rakyat Turki adalah karena hilangya kebudayaan nasional Turki, dan peradaban islam lebih dominant di dalam masyarakat Turki. Menurut golongan Nasionalis terapinya adalah menghilangkan institusi dan tidak berfaedah. Kebudayaan yang hendak dihidupkan itu, meskipun bercorak nasionalisme Turki, tetapi harus dijiwai oleh Islam, jadi golongan nasionalis ini tetap menjadikan Islam sebagai nilai yang ada dalam kebudayaan Turki.
Dari paparan diatas terlihat bahwa proses penerapan ide pembaharuan di Turki ketiga golongan, walaupun masing-masing nampak ada perbedaan namun menjadikan rakyat Turki supaya mencapai kemajuan, secara bertahap arah perubahan itu berjalan dengan pasti.
1. Pemikiran Ziya Gokalp dan Analisa Pemikirannya
a. Bidang Politik
Keberadaan sejarah pada masa hidup Ziya Gokalp sangat diwarnai denga konflik dan peperangan. Suatu hal yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa pemikiran yang dilontarkan oleh tokoh Turki merupakan respon terhadap kondisi social politik yang berkembang ketika itu. Spektrum pemikiran sangat dipengaruhi oleh problem social sebenarnyamerupakan Ekstradisi dan menjemput moderenisasi.
Situasi Turki sejak mas Pemerintahan Sultan Mahmud II (1785-1839), beliau diangkat menjadi Sultan (1807-1839).[26] Dianggap sebagai awal dari pembaharuan di Turki pada abad XIX, yang penuh dengan gejolak social karena pemerintah sasat itu banyak melakukan usaha-usaha pembaharuan disegala bidang. Pada mulanya penggerak pembaharuan tersebut lebih bersifat psikologis, yakni keterkaitan Turki pada peradaban Barat. Hal ini terjadi sejak kerajaan ottonom masih kokoh dengan wilayahnya yang luas, juga sebelum barat mampu memainkan pengaruhnya secara efektif dalam bidang. Ziya Gokalp ingin membangun sebuag Turki baru dan akan memindahkan kembali antara jurang Turki Usmani dan nenek moyangnya. Ia yakin bahwa Islam yang dibangun oleh bangsa Arab tidak akan sesuai dengan kita semua. Denga materi etnis secara hati-hati ia berusaha mengumpulkan institusi-intitusi kebudayaan serta politik dari sejarah Turki periode sebelum Islam. Ia ingin melakukan pembaharuan agama sesuai dengan tempramen nasional.[27] Misi bangsa Turki tidak lain adalah agar supaya sejajar dengan kekuatan Eropa baik secara militer, ilmu pengetahuan dan industri. Maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan adalah dengan menerima peradaban barat. Gokalp tanpa keraguan sedikitpun menyalin model-model barat bersamaan dengan pengkultusan kebesaran Keturki-an.[28] Sebagai ahli sosiologi, Ziya Gokalp sangat dipengaruhi sarjana prancis Emile Durkheim. Filsafat politiknya dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul The Bases of Turkism ( Dasar-dasar Turkisme tahun 1923).[29] Dalam buku ini ia mengemukakan akan gagasannya tentang pengembangunan Turki berdasarkan pola barat dengan tetap mempertahankan agama Islam.
Negara merupakan institusi terpenting yang harus mendapat pembaharuan, karena pada saat itu kekuasaan kahlifah dan kekuasaan duaniawi Sultan sulit untuk dipisahkan. Sultan mempunyai kekuasaan spiritual dalam Syaikh Al-Islam. Dengan adanya konstitusi (1876) kekuasaan Syaikh Al-Islam bertambah luas. Ia memiliki bukan hanya kekuasaan eksekutif, tetapi juga kekuasaan mengontrol badan yudikatif dan badan legislative.
Ziya Gokalp dan golongan nasionalis Turki menginginkan perhapusan kekuasaan legeslatif yang dimiliki Syaikh Al-Islam dan mengembalikan keparlemen. Dan pemindahan mahkamah Syari’at dari Yuridiksi Syaikh Al-Islam keyuridiksi kemantrian kehakiman. Selanjutnya memindahkan madrasah dari kekuasaan Syaikh Al-Islam kepada kekuasaan kementrian pendidikan.[30] Dari uraian diatas bias dipahami bahawa yang dikehendaki oleh golongan Nasionalis (Ziya GOkalp) bukan Negara secular yakni pemisahan Agama dan Negara, tetapi pemisahan Negara dengan kekuasaan ulama yang terdapat di biro Syaikh Al-Islam, terutama dalam hal Mu’amalah. Adapaun persoalan Dinayet itu tetap berada di tangan para ulama.
b. Bidang Sosial dan Agama
untuk membangun angka Turki Muslim yang kontemporer Ziya Gokalp mengatakan bahwa dasar yang sebenarnya dari kemajuan dan pembahruan adalah tradisi. Oleh karena itu menganjurkan agar kegiatan penelitian tentang berbagai aspek digalakkan guna mementukan perkembangan yang evolusioner, sehingga dapat diketahui kemajuan-kemajuan bias diperoleh di hari-hari kemudian.[31]
Gokalp menegaskan bahwa bangsa (Nation) adalah suatu komunitas yang merupakan hasil dari perpaduan dari kebiasaan budaya dibawah sebuah “Otoritas Kultural” cultural authority). Hal ini berbeda dengan komunitas yang disatukan oleh aturan-aturan agama dan tunduk pada ototitas agama tersebut yang dinamakan dengan Ummat (umat), sedangkan komunitas yang terbentuk karena aturan-aturan politik dan tuduk pada otoritas politik itu disebut dengan Negara (State).
Pendekatan tersebut di dasarkan pada tipe-tipe masyarakat sesuai dengan perdabannya. Gokalp menyatakan bahwa masyarakat terbagi dua tipe, yaitu masyarakat Primitif dan masyarakat Orgaik. Dalam masyarakat primitive hanya ada satu jenis otoritas, yaitu agama. Otoritas dalam masyarakat primitive tersebut didasarkan pada adapt istiadat dan adapt istiadat itu didasarkan pada agama. Sedangkan masyarakat organic selain ada otoritas agama juga ada otoritas politik dan budaya.
Gokalp juga mengadakan pembedaan anatara kebudayaan dan perdaban. Menurutnya kebudayaan itu bersifat unik, nasional, subjektif, dan tibul dengan sendirinya, sedangkan peradaban bersifat umum, internasional, objektif, dan diciptakan. Kebudayaanlah yang membedakan suatu bangsa (nation) dan bangsa lain.[32] Bangsa-bangsa yang mempunyai kebudayaan belainan, tetapi mereka mempunyai perdaban yang samadisebut perdaban Barat.
Sebagai seseorang sosilog Gokalp dalam mengamati Isalm yang ada di Turki sebagai suatu fenomena social, yakni suatu factor social yang diterapkan dalam bentuk kemasyarakatan yang nyata dan dapat disaksikanserta dialmi oleh orang banyak. Dengan demikian Agama Islam merupakn Agama yang dinamis sehingga dapat sejalan dengan perkembangan zaman. Gokalp sangat yakin bahwa agama tidak akan bermakna bila prinsip-prinsip yang dikembangkannya tidak membuka peluang untuk menerima perubahan.
Dalam sebuah Puisinya yang berjudul “Relegion and Science”, yang memuat konsep idealnya mengenai kewanitaan.[33] Isi gagasan adalah, bahawa didikan keluarga harus sesuai dengan keadilan. Gokalp menghendaki adanya kesamaan antara hak laki-laki dan perempuan, baik dalam pendidikan dan warisan. Misalnya dalam pembagian warisan antara wanita dan laki-laki sama (tidak ada pembeda). Kalau hal itu dilakukan maka keluarga dan Negara akan menjadi makmur.
Gokalp mengembangkan konsep barunya tentang sumber hukum Islam (Fiqih) yaitu Nash dan ‘Urf’. Nash dalam hal iniadalah ketentuan yang sudah baku dan tidak ada lagi penambahan dari segi kuantitasnya. Yakni Alquran dan Hadis dari segi kualitasnya, Islam masuh tetap dikembangkan sejauh mungkin dengan tidak menghilangkan Sumber yang primer sedangkan Urf adalah kesadaran kolektif dari masyarakat yang telah terpelihara sejauh Masyarakat menerimanya.[34] Gokalp menginginkan adanya pemisahan antara di Yanit dan muamalat. Ia mengatakan bahwa hukum yang terdapat dalam muamalat berasal dari adat dan kemudian dikuatkan oleh wahyu dalam Alquran.[35] Dan karena itu adat itu bersifat dinamis. Dinamika adat inilah yang ahrus diantisipasi oleh pemerintah dan menjadi tugas pemerintah untuk tetap menjaga dinamika muamalat. Sedangkan Dnayit adalah menjadi otoritas ulama untuk senantias menjaga agar tidak berubah. Jadi agama menurutnya mempunyai fungsi tersendiri didalam masyarakat atau dengan kata lain Agama memainkan peranan yang fungsional dalam suatu masyarakat hal ini dapat dilihat dalam upaya mencari nilai-nilai sosiologis dan berbagai bentuk ritual keagamaan (ibadah) seperti fungsi sahalat berjamaah sebagai pendorong umat untuk bersatu.
Dari pikiran-pikairan yang dilontarkan oleh Ziya Gokalp diatas, masih banyak lagi keinginannya untuk memajukan bangsa Turki, diantaranya masalah azan yang diterjemahkan kedalam bahasa Turki ditempat Umum, pologami harus dihapuskan, bunga uang tidak riba dan lain sebagainya. Ide pemikiran beliu tersebut diteruskan oleh tokoh Mustafa Kamal Attaturk yang menjadi sebuah gerakan.















PENUTUP
Dari semua paparan di atas, maka dapatlah di ambil konklusi sebagai berikut:
1. Ziya Gokalp lahir dan di besarkan dalam Negara yang sedang di landa krisis politik yang berkepanjangan . pemikiran ziya gokalp, banyak sekali di pengaruhi oleh keluarganya terutama ayah dari pamannya yang banyak mendukung gokalp dalam pendidikan. Selain itu kecendrungan pikirannya dipengaruhi oleh seorang sosiolog besar dari prancis (emile durkheim), sehingga sedikit banyaknya ia mengadopsi teori –teori sosiologinya. Gokalp merasa prihatin terhadap kesulitan utsmaniyah, dan berupaya mencari solusi agar tetap bertahannya kesulitan tersebut. Dia menjadi seorang pemikir, penyair, filosof dan sosiolog.
2. Gokalp menyatakan bahwa penyebab utama kehancuran islam adalah hilangnya kebudayaan nasional yang disebabkan kecendrungan islam untuk memaksakan diri sebagai sebuah peradaban dengan mengorbankan kebudayaan nasional serta menuju peradaban yang ilmiah, dengan mengambil model-model barat, yang bercorak nasionalisme turki tetapi harus dijiwai oleh islam. Artinya sekalipun golongan barat dan nasionalis turki banyak mempengaruhi, tetapi masih terkait dengan agama.
3. Gokalp mengadakan pemisahan antara urusan agama, yakni yang termasuk dalam masalah ittkat (keyakinan) dan ibadat dengan urusan social manusia (muamalat). Persoalan ibadah menjadi tanggung jawab para ulama, sementara persoalan muamalat menjadi urusan Negara dia berkeinginan agar syikh al-islam di batasi. Bahkan kekusaan legislatif di kembalikan ke parlemen. Mahkamah syariah harus diserahkan kepada mentri kehakiman, pendidikan dikembalikan kepada mentri pendidikan.
4. Gokalp berkeinginan hak kewarisan antar laki-laki dan wanita sama, poligami dihapuskan dan bunga uang tidak riba.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. Mukti, (19940, Islam dan Sekularisme di Turki Modern, Jakarta,
Jambatan.
Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 17, (1999), Jakarta, Cipta Adi Pustaka.
Eva Y. N, dkk, Ensiklopedia Oxford Of The Modern Islamic Word, Terjemah Dunia Islam Modern, Bandung, Mizan, 2001.
Gibb H.A.R. (1991, Airan-aliran Modern Dalam Islam, Jakarta, Rajawali, Pers.
Jameelah, Maryam, (1982), Islam dan Moderenesme, yang dikutip dalam buku Ziya Gokalp, Turkish Nasionalisme and Watren Civilization, Surabaya, Usaha Nasional.
Lothorp, Stoddart, The New Word Of Islam, di terjemahkan oleh H.M. Muljadi Djojomartono, dkk, dengan Judul Dunia Baru Islam, (Jakarta : 1996).
Mas’adi Ghufran A, (1999), Ensiklopedi Islam (ringkas ), Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Mugni Syafiq, (1997), Sejarah Kebudayaan Islam Di Turki, Jakarta Logos.
Nasution, Harun (1992), Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta, Bulan Bintang.
Sani Abdul, (1996), Linatasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam
Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
The Encyclopedia Americana, International Edition, Jilid 13, (1996), Amerika
Crolier Incorporated.
Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, (1992), Ensiklopedia Isalam Indonesia, Jakarta Jambatan.
Toprak, Binaz, (1999), Islam dan Perkembangan Politik di Turki, Yogyakarta, Tiara Wacana.



[1] Binnaz Toprak Islam dan perkembangan politik di Turki, (Yogyakarta Tiara wacana 1999), h 15.
[2] Hingga abad ke 19, orang-oarng Turki masih menganggap diri mereka sebagai oarng muslim: loyalitas mereka adalah milik Islam, bukan untuk pemerintah Usmaniya, bahkan Istilah Usmaniya (Ottonom) dipahami bukan sebagai perasaan nasional ia dipahami sebagai milik dinasti Umayyah, Abbasiyah, saljuk dan Kekaisaran – Kekaisaran besar islam lainnya dimasa lampau. Konsep mengenai bangsa Usmaniyah dan tanah air Usmaniyah sebagai loyalitas yang patriotic adalah hasil pembaharuan abad 19 dabawah pengaruh orang-orang Erofa. Dibawah pemerintahan Usmaniyah bahasa yang dipakai orang, daerah yang diduduki, suku bangsa yang diwarisi bias jadi secara pribadi, perasaan atau makna social tidan ada hubungan nya dengan politik. Demikian sempurnany orang Turki menidentifikasikan diri mereka dengan Islam, sehingga menyebabkan hilangnya konsep nasional Turki, mereka tidak menyadari identitas mereka sebagai kelompok etnis serta budaya yang terpisah sebagaiman bangsa Arab dan Parsi di dalam Islam, orang-orang Turki nampak sedikit sekali kesadaran nasionalnya jauh lebih sedikit dari pada bangsa arab dan Parsi. Oaring-orang Turki sebelum islam tidak pernah memusuhi pemerintahan, agama serta kebudayaan. Semua apa yang diusahakan dalam berbagai bidang, dilupakan serta dinbasmi begitu saja sewaktu pemerintahan Isalam, tidak ada orang Turki yang memiliki kenangan-kenangan yang sama dengan bangsa Arab sebagai pahlawan pemuja berhala dari orang-orang kafir arab tidak pula sama dengan kebangsaan oaring-oarang Parsi yang memiliki Kaisar-kaisar mereka yang agung pada masa lampau, atau bahkan dengan legenda bangsa Mesir yang ditemukan disekitan puing-puing Firaun. Beberapa fragmin syair rakyat dan catatan istilah, serta apa yang ada pada zaman Turki, sebelum Islam, semuanya dilupakan. Bahkan nama Turki dan kesatuan yang berhubungan dengannya, diubah sedemikian rupa hingga sesuai dengan perasaan Islam. Penyamarataan adalah untuk menutupi semua kelompok dan bahkan paham kelompok tersebut, semuanya seolah-olah bersal dari Islam dan identik bangsa Islam demikian juga dengan sejarah bangsa turki dan kebudayaan turki. Bahkan bahasa Turki yang bentuknya seperti ini yang muncul seribu tahun lampau adalah dilahirkan islam, dan demikian seterusnya, dimana sampai saat ini istilah Turki tidak pernah dipakai pada golongan Non-Muslim meskipun asal keturunan itu asal Turki, penduduk serta juga Negara mereka juga Turki, kaum Usmaniyah tidak memiliki suku bangsa yang khas yang bias dibanggakan, tidak pula secara tegas menyatakan diri mereke adalah benar-benar keturunan turki Islam, merupakan jalan masuk yang membuka pintu membagi kekuatan nyata serta status social bagi orang Albania, Yunani, Slavia demikian juga bagi orang Kurdi dan Arab. (Benard Lewis, The Emergensi of Modern Turkey, Oxford University Press, 1961), h. 2,8.
[3] Harun Nasution, pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan gerakan (Jakarta : Bulan bintang, 1992), h. 126.
[4] Abdul Sani, Lintasan sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Is lam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1998), h. 116.
[5] Lihat, Harun Nasution, pembaharuan, h. 130.
[6] Maryam Jameelah, Islam dan Moderenisme, (Surabaya : usaha Nasional, 1982), h. 152 dikutip dalam buku Ziya Gokalp, Turkish Nasionalisme and watern Civilization, (new York : 1959, h. 276).
[7] Nam ‘Gokalp’ adalah nama pena dari Mehmed Ziya (pen-name) yang dicantumkan pada setiap karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi yang diterbitkan dijurnal. Karena ia lebih sering menggunakan nama tersebut pada setiap karyanya, maka ia lebik dikenal dengan nama penanya tersebut. Kata ‘Gokalp’ ia ambil dari nama Turki kuno yang ditemukannya silsilah nenek moyang sultan-sultan Ottonom. ‘Gokalp’ terdiri dari dua kata. Gok bearti langit dan Alp yang berarti pahlawan. Lihat The Encylopedia Americana, International Edition, jilid 13 (Amerika Crolier Incorporated : 1996) h. 133.
[8] Tim Penilis IAIN Syarif hidayatullah, Ensiklopedia Islam Indonesia, (Jakarta Jambatan, 1992), h. 262.
[9] A. Mukti Ali, Islam dan Sekularisme di Turki Modern, (Jakarta : Djambatan, 1994), h. 51.
[10] Eva Y.N, dkk, Ensiklopedi Oxford Of The Modern Islamic Word, terjemah Dunia Islam Modern, (Bandung : Mizan,20010, h. 118.
[11] Lihat Ensiklopedi Oxford, h. 119.
[12] Ziya Gokalp ingin membangun sebuah turki baru dan akan memindahkan kembali antara juarng turki usmani dan nenek moyang Turani yang kafir. Ia yakin bahwa Islam yang dibangun bangsa Arab tidak akan sesuai dengan keinginan semua, dengan materi etnis secara hati-hati ia berusaha mengumpulkan institusi kebudayaan serta polotik dari sejarah Turki periode sebelum Islam ; ia ingin melakukanpembaharuan Agama yang sesuai dnegan temepramen nasional kita (dikutip dari Abul Ala Maududi, Nasionalisme and India, Pathankat, Maktaba-e-Islami 1939, h. 40).
[13] Lihat harun Nasution, h. 126.
[14] Sekarang misi bangsa Turki tidak lain kecuali tidak lagi menutup-nutupi Turki pada masa sebelum Islam. Agar supaya sejajar dengan kekuatan Erofa baik secara militer, ilmu pengetahuan atau industri, maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya adalah dengan menerima peradaban Barat secara keseluruhan (Ziaya Gokalp, Turkish Nationalisme Western Civilazation, New York, 1959, h. 276)
[15] Orang-orang Turki sebelum Islam, memiliki tingkat patriotisme yang lebih tinggi. Pada masa yang akan dating, seperti juga pada masa lampau, patriotisme akan menjadi sarana moral yang sangat penting bagi orang Turki, karena bangsa dan tanah air adalah unit eksistensi satu-satunya. Loyalitas pada bangsa harus didahulukan diatas loyalitas pada keluarga dan agama. Turkisme harus memberikan prioritas yang paling tinggi pada bangsa dan tanah air. Kita kan menciptakan kehidupan baru. Hal itu untuk mengklsifikasikan orang Turki yang lebih indah dan cantik dari paad bangsa Aria dan bangsa Mongol yang tidak memiliki dasar ilmiah. Suku bangsa Turki tidak akan berubah tabiatnya seperti suku bangsa lain hanya karena alcohol dan pencabulan. Darah orang Turki tetap menjadi muda dank eras seperti baja dengan kemenangan-kemenangan di mmedan pertempuran. Intelegensia orang Turki tidak akan luntur, dan juga perasaaanya tidak akan lemah. Kemenangan dimasa yang akan datang hanya tergantung pada niat orang Turki 9ibid, h.302.271, 60).
[16] Ibid, h.226-267
[17] Ketika suatu bangsa mencapai tingkat yang lebih tinggi hasil revolusinya, hal itu dapat dipastikan akan merubah peradaban juga. Ketika orang Turki menjadi suku bangsa pengembara di Asia Tengah, mereka memiliki peradaban timur jauh. Ketika mereka melewati tangga pemerintahan Sultan, mereka memasuki daerah peradaban Byzantium, dan sekarang ini dalam masa transisinya kepemerintahan Negara sekuler, mereka memutuskan untuk memerima perdaban Barat (ibib, h. 266-267).
[18] Kekeliruan besar paar pemimpin Tanzinat adalah karena usahanya untuk menciptakan mental campuran antara Barat dan Timur. Mereka tidak melihat bahwa dasar-dasar budaya yang bertentangan itu tidak bias didamaikan. Dikhotomi dalam susunan politik kita, yaitu sitem pemerintahan rangkap, dua jenis sekolah, dua sitem pajak, dau Budget, dua perangkap hukum semuanya menghasilakan kegagalan. Berbagai usaha untuk mendamaikan anatara Timur dan Barat, berarti memelihara keadaan zaman pertengahan pada zaman modern ini. Kalau tidak mungkin untuk mendamaikan metode janissary dengan system militer modern, kalau sia-sia menemukan system pengobatan lama dengan pengobatan modern, maka sia-sialah untuk melanjutkan konsep hukum lama dengan yang baru, demikian pula antara standar etik modern dan tradisional. Masing-masing peradaban memiliki logika sendiri, punya standar keindahan tersendiri, punya panadangan dunia tersendiri. Karena alas an inilah maka peradaban yang berbeda tidak bias dicampur denag begitu saja satu sama lainnya. Dan lagi, karena alas an yang sama, jika suatu masyarakat tidak mengambil suatu peradaban tertentu sebagai keseluruhan sebagai system maka akan gagal juga kalau hanya mengambil sebagian saja. Bahkan jika mengambil beberapa, maka akan gagal dalam mencernakan serta mengasimilisasi kannya. Para pembeharu Tanzinat kita, yang tidak memahami panadangan ini, selalu mengambil tindakan setengah-setengah terhadap apa yang mereka lakukan. Sebenarnya mereka melangkah memoderenesasi produksi nasional, mereka ingin merubah kebiasaan dalam hal makanan, pakaian, bangunan, dan perabot rumah tangga, sebaliknya, tidak akan ada pusat industri menurut standar Eropa, jiak para pembuat polisi Tanzinat melakukan pembaharuan-pembaharuan tanpa mempelajari keadaan serta tidak mengemukakan maksud dan rencana yang pasti(Ibid, h. 270-277).
[19] Turkisme adalah gerakan sekuler, dan dapat menyesuaikan dirinya sendiri yang hanya bersikap sekuler (Ibid, h. 304-305).
[20] Hanya dengan kekayaan peradabannya, Eropa dapat mengalahkan bangsa Muslim dan menjadi pemimpin dunia. Kenapa kita ragu-ragu mengambil alih peradaban ini yang telah membuktikan demikian suksesnya? Tidakkah keyakinan kaum Muslimin mewajibkan kita untuk mengambil semua bentuk Ilmu Pengetahuan dan mempelajarinya sebagaimana di sabdakan oleh Nabi Suci kita “ Carilah Ilmu meski di Negeri Cina”, dan “Ilmu pengetahuan itu merupakan harta yang hilang bagi orang Muslim, ia akan mengambilnya dimanapun ia menjumpainya”. Jepang sudah dipandeang kekuatan Eropa karena kemajuannya, tetapi kita masih dianggap sebagai bangsa asia lantaran tidak menerima peradaban Barat dengan sebenarnya(Ibid, h. 266-267).
[21] Ibid, haru Nasution, h. 130.
[22] Bernard Lewis, The Emergensi of Modern Turki. Op-Cit, h. 408.
[23] Ibid, h. 132.
[24] Ibib, Harun Nasution, h. 130.
[25] Lothorp Stoddart, The new of Islam, diterjemahkan oleh H. M. Muljadi Djojomartono, dkk, dengan Dunia Baru Islam, Jakarta : 19660, h.137.
[26] Lihat Harun Nasution, h. 90.
[27] Lihat Maryam Jameelah, H. 151
[28] Ghufran A. Mas’adi, Ensiklopedi Islam (ringkas), (Jakarta: Raja Grafindo persada,1999), h.108.
[29] Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 17, (Jakarta : Adi Pustaka, 1991), h. 456.
[30] Lihat Harun Nasution, h. 136.
[31] Lihat Mukti Ali, h.60.
[32] Syafiq Mugni, Sejarah kebudayaan Islam di Turki, (Jakarta : Logos, 1997), h. 143.

[33] Lihat Maryam Jameelah, h. 158.
[34] H.A.R. Gibb, Aliran-aliran Modern dalam Islam, (Jakarta : Rajawali Pers, 1991), h. 152.
[35] Lhat Harun Nasution, h. 135.

script src="http://www.clocklink.com/embed.js">